- Untuk suami atau istri yang tidur mendengkur di waktu malam, karena kita mesti terganggu dengan suara dengkur nya, tetapi kita tetap harus bersyukur karena suami atau istri kita masih bias tidur dengan nyenyak dan jauh dari insomnia ( penyakit tidak bias tidur ).
- Untuk anak yang mengomel ketika di suruh mencuci piring, karena itu berarti dia ada di rumah ( tidak ngluyur ) dan mau membantu orang tua.
- Untuk pajak penghasilan, karena itu berarti kita masih punya pekerjaan.
- Untuk pakaian kita yang semakin sempit, itu berarti kita masih cukup makan.
- Untuk lantai yang perlu dipel, jendela yang perlu di tutup dan di buka dan rumah yang perlu di rawat, itu berarti kita masih punya tempat tinggal.
- Untuk bunyi ribut tetangga, karena itu berarti kita masih mempunyai telinga yang normal untuk mendengar.
- Untuk baju yang belum di cuci dan di setrika, itu berarti kita masih mempunyai pakaian untuk dipakai.
- Untuk keletihan otot sehabis bekerja, itu berarti kita masih di beri kekuatan.
- Untuk parkir motor atau mobil yang jauh, itu berarti kita masih di beri kekuatan untuk berjalan.
- Untuk jam yang berdering di pagi hari, karena itu berarti kita masih di beri umur panjang untuk melanjutkan kehidupan dan melakukan kebaikan.
Aqida Brilian bLog
Minggu, 10 Juli 2011
Pojok Renungan, Bagaimanapun Kita Harus Bersyukur.
Senin, 20 Juni 2011
FISIP UNSOED-SEKRE BERSAMA
Ngomong-ngomong soal sekre bersama, pertama kali yang ada dipikiranku adalah aku tidak memiliki masalah apapun mengenai sekre bersama ini. Meskipun teman-teman yang lain menolak mentah-mentah terhadap hadirnya sekre bersama. Berbagai perlawanan dilakukan oleh teman-teman. Mereka melakukan diskusi-diskusi dengan dekanat dan rektorat, sampai menerbitkan buletin mengenai isu sekre bersama.
Berita yang aku tahu tentang sekre bersama ini adalah, aku hanya tahu kalau sekre yang lama akan di gusur untuk dijadikan kantin dan kemudian tempat UKM kami dipindah ke sekre yang baru. Sebenarnya cukup sayang jika sekre di pindah ke tempat yang baru karena sebagian sejarah telah terukir di sekre yang lama. Mulai dari perjuangan dalam mendapatkan sekre, sampai sejarah-sejarah lainnya yang telah kakak-kakak angkatan torehkan di dalam ruangan sekre. Tapi sekali lagi aku tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut.
Sampai kemarin, ketika buletin mengusung isu sekre bersama dan disitu aku merupakan salah satu tim buletin. Suatu sore aku bersama om redpel membagikan buletin ke persma-persma lain se universitas. Sore itu aku baru membaca buletin yang aku buat oleh tim ku sendiri kemudian aku terlibat diskusi singkat bersama om redpel. Ia menannyakan pendapatku mengenai sekre bersama. Terlebih lagi selama ini aku tidak pernah mengeluarkan suara dan adem ayem saja tentang sekre bersama.
Sebelum aku menjawab pertanyaannya, aku bertanya dahulu ‘sebenarnya kasus sekre bersama gimana sih?’ karena selama ini yang aku tahu hanya gambaran secara umumnya saja.
Ia menjelaskan tentang awal mula dibangunnya sekre bersama yang tanpa pemberitahuan dulu terhadap mahasiswa (tahu-tahu sudah jadi, dan mahasiswa diminta meninggalkan sekre lama lalu menempati sekre yang baru). Kontan saja menuai protes dikalangan mahasiswa dengan pemberitahuan mendadak itu. Apalagi menurut keterangan beberapa mahasiswa sekre yang dibangun sungguh tidak layak, sebuah ruangan luas dengan sekat-sekat setinggi satu meter dan setiap ruangannya hanya berukuran 3x3 meter. Persis seperti warnet, hanya tinggal di beri nomor saja.
Mendengar pejelasan tersebut, aku berpikir: mungkin benar dengan yang selama ini teman-teman perjuangkan. Dekanat beranggapan bahwa sekre hanyalah sebagai tempat administrasi saja. Padahal yang terjadi adalah sekre merupakan tempat pusat kegiatan mahasiswa, dimana kami semua berkarnya di ruangan ini dengan sebebas-bebasnya. Dan disinilah kami mendapatkan ilmu yang tidak didapatkan dalam ruangan kuliah. Pantas saja hal ini menuai protes yang cukup kontroversial dikalangan mahasiswa. Diam-diam aku jadi ikut mendukung teman-teman untuk mendapatkan sekre yang layak.
Obrolan kami terhenti ketika kami akan membagikan buletin ke fakultas keperawatan. Kami berdua mencari-cari dimana ruang sekre persma keperawatan. Setelah bertanya kesana-kemari dan di beri saran untuk bertanya ke sekre BEM saja, akhirnya kami menemukan sekre BEM. Hal yang mengejutkan adalah ketika kami bertanya pada salah satu anak BEM dimana letak sekre persma keperawatan? Ia menjawab, “Ya disini, ini sekre bersama..”
Aku tercengang dengan jawaban anak BEM tersebut, sekre bersama yang aku lihat dihadapanku hanyalah kurang lebih berukuran 2,4x4,8 meter. Sekre berukuran tersebut adalah pusat segala kegiatan mahasiswa.
Setelah cukup tercengang, kami akhirnya menitipkan buletin untuk di berikan pada anggota persma keperawatan dengan isu ‘sekre bersama fisip’. Sungguh kontras dengan apa yang barusan kami berdua hadapi.
“Gila, dikasih sekre kayak gini nggak ada perlawanan sama sekali..” celetuk om redpel.
“Aku kira lahan disini cukup luas buat dijadiin sekre,” imbuhku.
Akhirnya aku berpikir. Harus bersikap bagaimanakah seharusnya? Menerima dengan lapang dada dengan sekre ukuran 3x3 meter yang seperti warnet ataukah menolak habis-habisan jika dibandingkan dengan kejadian yang baru saja aku hadapi?
Sebelum tulisan ini selesai dibuat, aku mendapat sms dari tante PU bahwa besok, selasa 21 Juni 2011 diharapkan seluruh crew persma hadir jam delapan pagi di sekre bersama untuk menyaksikan pembongkaran sekat sekre bersama yang dianggap ‘tidak layak itu’. Akhirnya perlawanan kami membuahkan hasil.
Rabu, 08 Juni 2011
Purwokerto Fingerboard Comunity
Purwokerto Fingerboard merupakan sebuah komunitas anak-anak pemain fingerboard Purwokerto. Fingerboard adalah sebuah permainan dengan menggunakan papan skateboard berukuran kecil dan dimainkan dengan menggunakan tangan. Komunitas ini terbentuk bermula dari kumpul-kumpul biasa lalu sering transaksi barang hingga akhirnya tercetus ide untuk membentuk sebuah komunitas sendiri. Saat ini komunitas Purwokerto Fingerboard beranggotakan sekitar 20 orang yang terdiri dari anak SMA sampai kuliah dan diketuai oleh Galang Gusti Hariatmaja mahasiswa Administrasi Negara FISIP UNSOED.
Komunitas ini tergolong menarik. Sepintas jika kita lihat para pemainnya seperti anak autis yang memainkan papan skateboard kecil pakai tangan. Tapi setelah di coba ternyata cukup sulit juga untuk memainkannya. Butuh ketrampilan untuk memainkannya. Memainkan fingerboard memiliki keasyikan tersendiri yakni mempelajari trik sampai mahir hingga menciptakan sebuah trik baru. Pemain fingerboard ini juga harus bisa menguasai teknik dasarnya atau di sebut dengan teknik olie, yaitu meloncat. Setelah bisa menguasai teknik dasar bisa dilanjutkan dengan teknik-teknik yang lain seperti shove it, kick flip dan heel flip.
Rabu, 16 Maret 2011
Etika Berdemo Mahasiswa, Menyelesaikan ataukah Menambah Masalah?
Mahasiswa, bisa dilihat dari konteks kalimatnya bahwa mahasiswa adalah tingkatan siswa tertinggi dalam dunia pendidikan. Mahasiswa disebut insan intelektual atau insan akademis karena kedudukannya sebagai insan pelajar tertinggi. Memiliki nalar dan kepekaan yang rasional, selain itu seorang mahasiswa memiliki kematangan ilmu, ilmu yang mereka peroleh dari bangku perguruan tinggi diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakat sekitar.
Seorang mahasiswa dikatakan berhasil jika dapat memberikan manfaat pada masyarakat. Mahasiswa sebagai kaum intelektual jika mereka bisa menerapkan ilmu yang dimilikinya serta memberikan kontribusi atau pengabdian pada masyarakat sehingga kehadirannya dibutuhkan masyarakat terutama dalam penyampaian aspirasi. Mahasiswa selalu bersikap kritis, mereka memiliki ilmu sehingga dalam urusan pemerintahanpun mahasiswa turut ikut serta.
Kita bisa lihat dalam kenyataannya. Kebanyakan yang terlibat dalam demo adalah para mahasiswa. Tapi mereka sebagai kaum terpelajar yang beretika dan bermoral seringkali justru mengabaikan etika dan moral dalam berdemo. Merusak fasilitas umum, membuat macet lalu lintas, bahkan sampai menimbulkan korban luka – luka sampai meninggal dunia. Hal seperti itu sudah biasa kita lihat dalam berbagai demo yang dilakukan mahasiswa.
Makna yang harus digaris bawahi adalah nilai moral dalam berdemokrasi dan berpolitik harus mengikuti tata krama budaya dan aturan hukum yang ada.
Diambil dari website Koran Demokrasi Indonesia, “Setiap orang dimuka bumi ini berhak untuk menyampaikan suatu aspirasi ataupun pendapatnya namun harus sesuai dengan etika. Jangan menjadikan demo sebagai alat dengan mengatasnamakan rakyat tetapi sebenarnya berasal dari kepentingan kelompok tertentu saja. Demo itu sendiri bukanlah ajang untuk menunjukkan kearogansian. Dalam berdemo, haruslah menerima apapun keputusan yang akan diambil pihak yang di demo. Tidak malah memaksakan kehendak sendiri, menghujat kelompok lain, dan membakar simbol – simbol kenegaraan”. Apakah hal itu bisa disebut dengan kaum intelektual dan terpelajar?
“Demo yang seperti itu justru akan menimbulkan kontradiktif dalam masyarakat. Masyarakat tidak lagi bersimpati pada para pendemo tapi justru mencap negatif pendemo, terutama mahasiswa”, ucap Bapak Azhari Patrice, SH alumni fakultas hukum UNSOED. Bila aturan dan etika berdemo semakin jauh diabaikan maka bangsa ini tinggal menunggu kehancurannya dalam eforia berdemonstrasi.
Sedangkan menurut Pendi Wijanarko, mahasiswa politik angkatan 2009 mengatakan “Bedanya demo dulu dengan sekarang terletak pada kesadarannya. Jika demo dulu berdasarkan atas kesadaran diri sendiri serta memperjuangkan kepentingan bersama. Tetapi demo sekarang lebih banyak mempertimbangkan keuntungan yang akan di dapat dari demo tersebut.”
Mahasiswa memiliki sebuah peran penting sebagai penghubung antara masyarakat dengan pemerintah. Setidaknya dengan adanya demo, aspirasi masyarakat dapat tersampaikan dengan baik dan jelas pada pemerintah melalui diplomasi yang dilakukan para mahasiswa.
Dra. Rin Rostikawati, M.si dosen jurusan Sosiologi menjelaskan secara panjang lebar bahwa demo yang baik adalah demo yang dilakukan secara tertib, damai dan sopan. Selain itu harus ada juru bicara untuk melakukan negosiasi serta disampaikan dalam bahasa yang jelas, lugas maksud dan tujuannya. Para mahasiswa juga harus waspada terhadap kemungkinan adanya provokator, dan terakhir yang paling penting adalah tidak mengganggu ketertiban umum dan jadwal kuliah.
Demo mahasiswa bukanlah sebuah permasalahan selama demo yang dilakukan memiliki tujuan yang jelas, tertib, teratur dan sesuai dengan etika berdemostrasi dan mematuhi hukum yang berlaku agar terciptanya keamanan Negara kita serta kegiatan berdemo dapat berjalan dengan baik.
Secara umum, demo yang dilakukan justru berujung pada tindakan perusakan dan tidak memberikan solusi sama sekali. Padahal esensi berdemo adalah untuk memecahkan dan menyelesaikan masalah ketidakcocokan yang ada antara pemerintah dengan rakyatnya, lanjut Dra. Rin Rostikawati, M.si.
Jadi apa inti dari demo? Tidak ingin bukan, jika demo hanyalah omong kosong belaka tanpa penyelesaian. Demo memang penting, tetapi mengendalikan emosi saat berdemo itu lebih penting lagi.
Selasa, 15 Maret 2011
Definisi Cinta
Cinta adalah keinginan, kesadaran diri, perasaan dan dorongan hati yg menyebabkan seseorang terpaut hatinya kepada yg dicintainya, menimbulkan kegelisahan dan ketidaktenangan jika tidak bertemu dgn yg dicintainya, menimbulkan ketenangan dan kenyamanan ketika bersamanya, sehingga menumbuhkembangkan rasa benih-benih kehidupannya.
Senin, 07 Maret 2011
Manusia, Pengendalian Diri dan Hubungannya dengan Teori Darwinisme
Pengendalian diri adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan emosi, perilaku, dan keinginan. Pengendalian diri juga harus meningkat dengan seiring bertambahnya usia seseorang. Pengendalian diri merupakan aspek penting dalam kecerdasan emosi. Hal ini sangat penting bagi kehidupan manusia karena musuh terbesar manusia berada dalam dirinya sendiri. Pengendalian diri merupakan aspek yang perlu di latih sejak dini. Manusia hendaknya menyadari bahwa emosi yang berlebihan atau tindakan yang hanya mengedepankan emosi saja dapat memblokir berpikir secara logis.
Salah satu kelemahan diri seorang manusia adalah ketidakmampuannya dalam pengendalian diri. Contohnya dalam hal ini adalah teori Darwinisme serta paham komunis yang berkembang selama kurang lebih seratus lima puluh tahun yang lalu.
Dalam hidupnya, manusia memerlukan tiang penyangga yaitu tak lain adalah agama sebagai landasan hidupnya selain itu diperlukannya iman dan kepercayaan kepada Tuhan dalam pengendalian diri. Salah satu mitos yang muncul dan dipercayai disini adalah mitos evolusi yang isinya adalah bahwa semua makhluk hidup berasal dari satu spesies yang sama. Dalam hal ini diperlukan pembuktian atau pembenaran dari mitos yang beredar tersebut. Sehingga kita tidak percaya begitu saja serta mengklaim bahwa mitos tersebut memang benar adanya. Disinilah pengendalian diri diperlukan demi kemaslahatan bersama, tidak merujuk pada kepentingan seorang saja yang dengan saklek mempercayai teori evolusi Darwin serta pembenaran tindakan komunisme seperti yang dilakukan bangsa Jerman dan Cina yang menyebabkan kesengsaraan umat manusia serta banyaknya korban tak berdosa yang berjatuhan karena tidak adanya kontrol dan pengendalian diri para penguasa pada saat itu.
Apalagi dengan adanya penggolongan ras yang menganggap bahwa ras kulit putih Eropa lebih unggul dibandingkan ras asia dan ras afrika yang bahkan akan dihapuskan sama sekali. Perlu kita ketahui, pada dasarnya Tuhan menciptakan manusia dengan segala perbedaannya. Baik dari segi fisik maupun warna kulit (ras). Tuhan tidak pernah membedakan manusia berdasarkan pada rasnya. Kulit hitam ataupun kulit putih semua sama dihadapan Tuhan yang membedakan hanyalah derajat keimanan dan ketakwaan manusia pada Tuhan. Ini semua adalah sebab dari keingkaran manusia terhadap sang pencipta. Akibatnya manusia menderita kesengsaraan, ketakutan, dan kebinasaan.
Pada kasus ini, untuk membenarkan segala pemikirannya, Charles Darwin bahkan sampai membuat kebohongan besar pada public. Yaitu dengan ditemukannya manusia Piltdown yang merupakan penipuan terbesar dalam sejarah. Kembali lagi pada pengendalian diri yang tidak dimiliki seseorang atau lemahnya pengendalian diri sehingga menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan meskipun dengan melakukan sebuah kebohongan besar.
Dalam kaitannya antara teori darwinisme dan pengendalian diri manusia ada beberapa poin penting disini, yaitu :
1. Diperlukannya agama sebagai landasan hidup. Karena disinilah kebanyakan orang – orang yang menganut paham atheis (tidak beragama) dan membenci agama tidak memiliki pengendalian diri yang baik.
2. Sebelum bertindak manusia harus memikirkan kepentingan orang lain pula. Apakah tindakan tersebut akan merugikan orang lain atau tidak.
3. Tidak menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Jika tujuan tersebut di rasa mustahil dan tidak mungkin kita capai apalagi sampai mengorbankan banyak orang lebih baik kita mundur secara perlahan dan tidak memaksakan kehendak diri kita.
Seiring berjalannya waktu yang menunjukan majunya peradaban serta terbuktinya teori Darwin sebagai sebuah kebohongan belaka, kita sebagai manusia modern yang berpikiran maju serta beragama harus bisa membedakan dan tau mana yang merupakan keinginan emosi belaka dan mana yang merupakan tindakan sadar kita. Dibalik hak dan kewajiban kita sebagai manusia, masih ada hak dan kewajiban orang lain. Sehingga dalam melaksanakan hak dan kewajiban kita harus bisa mengendalikan diri agar tidak melanggar milik orang lain.
Langganan:
Komentar (Atom)